Kakek Tua ini Usianya 120 Tahun Tapi Masih Sangat Sehat, Ternyata Rahasianya Z3KZ yang Ekstrem!...Bagaimana Hal Ini Dalam Pandangan Islam

iklan
Kakek Tua ini Usianya 120 Tahun Tapi Masih Sangat Sehat, Ternyata Rahasianya Z3KZ yang Ekstrem!...Bagaimana Hal Ini Dalam Pandangan Islam
Gambar Ilustrasi

Belum lama ini natizen media sosial sedang dihebohkan dengan seorang kakek tua berusia 120 tahun yang punya kesehatan tubuh luarbiasa. Usia yang sudah lebih seabad ini kabarnya selalu sehat akibat sebuah rahasia z3Kz yang ekstream.
Kakek Swani Sivananda asal India ini mengakui jika usianya sudah 120 tahun. Swami sempat menunjukkan paspor resminya dan jelas terlihat jika Swami lahir pada 8 Agustus 1896 dan saat ini usinya sudah menginjak 120 tahun.
Dari cerita hidupnya , selama ini Swani Sivananda tinggal di sebuah keluarga miskin di Kalkuta. Kebutuhan hidup yang serba kekurangan ternyata tak membuat tubuhnya kurus kering. Malah tubuh Swani terlihat sehat bugar .
Ternyata ada salah satu rahasia khusus yang membuat tubuh Swani tetap sehat . Salah satu rahasianya yakni Swani punya perilaku z3Kz yang ekstrim.
Prilaku seks yang ekstream ini adalah prilaku menahan gejolak z3Kz. Di usia 120 tahun ini Swani masih perjaka.Dan yang terpenting dalam hidupnya yakni selalu menjaga pola makan yang sehat.
“Yoga, makan tanpa bumbu, dan tak melakukan z3Kz sekalipun. Disiplin hal yang terpenting dalam hidup. Semua orang bisa menaklukkan segalanya, bila dia bisa disiplin terhadap berolahraga, makan, dan menahan gejolak z3Kz,”
Menariknya lagi , Swani juga bisa sehat sampai usia 120, karena tak memikirkan duniawi.
“Aku bisa hidup selama ini karena aku tak mengejar materi apapun di dunia. Karena aku miskin, aku tidak kepikiran untuk berkeinginan memiliki sesuatu,” ujarnya.
Baca juga : [KISAH INSPIRATIF] Ya Allah, Betapa Bahagianya Calon Suamiku Itu

Bagaimana Hal Ini Dalam Pandangan Islam?
sepasang suami istri sebaiknya selalu kuat keinginannya untuk menunaikan hak dan kewajibannya, bergaul dengan baik dalam rumah tangga, memberikan sesuatu yang baik dan utama, menyelesaikan masalah-masalah yang terkadang menimpanya, dengan kondisi penuh kasih sayang dan saling memahami dalam rangka mengamalkan
Firman Allah SWT:
Artinya: “…Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Baqarah: 228)

Seorang suami tidak boleh mendiamkan istrinya di atas ranjang selama waktu tertentu, kecuali sang istri melakukan nusyuz (membangkang) tidak taat kepadanya, tidak menunaikan hak suaminya, maka dibolehkan mendiamkannya sampai dia bertaubat, berdasarkan firman Allah:
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An Nisa’: 34)

Adapun tanpa adanya nusyuz (membangkang) maka tidak dihalalkan baginya untuk mendiamkannya karena dua hal:
1. Diwajibkan bagi seorang suami untuk menjaga kehormatan istrinya, dan menggauli istrinya sesuai dengan kebutuhannya dan kemampuan suami tersebut.
Syeikh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang tidak menggauli istrinya selama satu bulan atau dua bulan, apakah dia berdosa atau tidak? Dan apakah suami tersebut butuh diajak terlebih dahulu ?

Beliau menjawab: “Diwajibkan bagi seorang suami agar menggauli istrinya dengan baik, karena hal itu termasuk haknya yang paling dianjurkan, lebih besar daripada memberinya makan, menggaulinya adalah wajib.” Dikatakan bahwa: “Wajibnya menggauli istri itu setiap empat bulan sekali”, yang lain mengatakan: “Sesuai dengan kebutuhan seorang istri dan sesuai dengan kemampuan seorang suami, sebagaimana halnya dengan memberi nafkah (makan) sesuai dengan kebutuhan seorang istri dan sesuai dengan kemampuan seorang suami.” Pendapat inilah yang lebih kuat dari kedua pendapat tersebut,” (Majmu’ Fatawa: 32/271).
2. Bahwa seorang suami yang tidak mau menggauli istrinya –padahal istrinya tidak melakukan nusyuz—selama empat bulan, maka hukumnya berada di bawah undang-undang, ditangani oleh pengadilan dan disuruh menggaulinya atau menceraikannya, dan kalau tidak mau menceraikannya maka hakimlah yang menceraikan.
Ulama Lajnah Daimah berkata: “Barang siapa yang mendiamkan (tidak menyentuhnya) istrinya lebih dari tiga bulan, maka jika hal itu karena dia berlaku nusyuz, yaitu; karena dia membantah suaminya yang seharusnya ia menunaikan hak-hak suaminya yang wajib, dan bersikeras dalam pendiriannya setelah dinasehati dan diingatkan agar takut kepada Allah –Ta’ala- dan mengingatkannya akan hak-hak seorang suami yang wajib ditunaikan, maka dia boleh mendiamkannya di atas tempat tidur sesukanya, sebagai bentuk peringatan baginya hingga nantinya mau menunaikan hak-hak suaminya dengan sukarela.”
Adapun jika seorang suami mendiamkan istrinya (tidak menyentuhnya) di atas tempat tidur lebih dari empat bulan, sengaja menelantarkannya, tanpa ada keteledoran istrinya untuk menunaikan hak-hak suami, maka suami tersebut berada di bawah hukum pengadilan, meskipun tidak bersumpah, disetarakan dengan hukum ilaa’ (bersumpah tidak mau menggauli istrinya).
Kalau selama empat bulan suami tersebut belum juga kembali kepada istrinya dan menggaulinya dari qubul, padahal dia mampu melakukannya, tidak pada masa haid dan nifasnya, maka dia disuruh untuk menceraikannya, namun jika dia menolak untuk kembali kepada istrinya dan tidak mau menceraikannya, maka hakim yang menceraikannya atau membatalkan pernikahannya, jika pihak wanita memintanya demikian,” (Fatawa Lajnah Daimah: 20443).
Semoga bermanfaat
Baca juga : Ribuan Orang Menangis Karena Kisah Ini. Silahkan Baca Kalau Berani